Selama ini, aku menyangkal semua yang aku rasa. Aku tak pernah tau kenapa kogh bisa begini. Aku juga tak tahu akhir dari kisah ini, semua orang menganggap kisah ini sudah di ujung jalan. Namun, entah ada kekuatan apa yang membuat aku yakin, semua akan kembali dan dia akan ada untukku lagi. Emosiku menuntunku ke sesuatu yang bersifat merampas. Namun, hatiku, berkata, “santai saja, pasti kemenangan itu akan datang. Tidak usah terlarut. Mungkin kamu akan menyesal atau tertawa bila suatu saat kemenanganmu datang menghampiri dan memelukmu kembali. Ingat semua ucapan adalah doa. Allah maha tau, dia pasti akan mengabulkan sesuai dengan keinginanmu, meski bukan dia. Pasti seseorang yang akan lebih membuatmu tenang datang dan mengabdikan dirinya untukmu. Bukan Cuma 2 atau 3 tahun, tapi seumur hidupmu. Kau bukan orang yang jelek dan bodoh, bukan pula seorang yang jahat, pengasih juga baik hati. Menolong tanpa pamrih, dan tak mau tahu urusan orang, membantu sebisa mungkin pasti akan membawa kamu kepada sosok yang telah kamu impikan, kamu harapkan, meski bukan dia atau mungkin dia. Hanya tuhan yang tahu, apa kamu pernah mengira sebelumnya orang sekitar kamu mendapatkan jodoh dia? Tidak kan? Semua itu jalan yang sudah digariskan, kamu hanya bisa mengubahnya sedikit, dan perubahan itu tak berarti. Yakin, ada seseorang yang juga menunggu saat ini, menunggu kapan kau datang dan memeluk dia. Entah siapa dia dan latar belakangnya. Bukankah banyak gadis dapat duda atau sebaliknya, santai bro, ingat kata tiia pasti akan bahagia, ingat kata anna santai saja ntar juga datang, ingat kata melisa jangan terlarut dalam sedih. Ok, percayalah pasti akan ada orang yang bisa menggantikan lukamu ini, orang yang akan menuntunmu kejalan menuju SurgaNya. Biarkan cerita itu menjadi sebuah cerita novel atau buku cerita pendek bersambung dalam hatimu, yang mungkin sesekali kamu baca untuk mengenangnya. Tenang lah de berdoa saja aku jodohmu, inget pesan itu ya, kamu pasti juga akan mengingat sosok yang mungkin 2 atau 3 tahun akan berlalu jauh darimu. Ingat apa sayang dia begitu indah dimatamu, meski dia banyak sekali cacatnya di mata teman-temanmu, mungkin itu pertanda. Kamu pernah menyadarinya kan? Atau mungkin kamu melupakannya! Ingat suatu saat dia akan memelukmu kembali, bila dalam kehidupan nyata tak bisa mimpimu akan berkata seperti itu, atau kelak disurga yang indahnya tiada tara. Doakan saja, dia pasti juga merasakan apa yang kamu rasakan.mungkin dengan rasa seperti kamu dulu yang kangen tapi tak tahu siapa yang dikangeni atau dengan cara lain, yang jelas ingat waktu kamu dan dia berpisah, bukankah disitu sudah ada jalan tengah yang disetujui dua belah pihak? Ini memang jalan yang paling baik. Dia juga berkata, ya kalau jika ini yang terbaik untukmu aku akan lakukan. Ingatkan? Ingat dia begitu bahagia saat kamu datang ketempatnya, apa kamu rela melihat dia nangis untukmu gara-gara kamu dimarahin orang tua mu? Orang tuamu menjelek-jelekkan dia lagi?apa kamu rela untuk itu, he? Apa kamu rela dia menangis saat melihat memar biru ditubuhmu? Apa kamu rela membuat dia menunggu sesuatu yang tak pasti? Apa kamu rela dia dilecehkan depan keluarga besarmu? Apa kamu rela? Apa kamu rela? Aku tahu itu sakit, tapi lebih sakit bila kalian bersama. Cerita indah atau pahit yang pernah kamu lalui sama dia itu sudah cukup untuk membuat dia tersiksa yang bertambah-tambah. Atau selingkuh yang tak ada berhenti. Dia mungkin juga berat untuk meninggalkan kamu sendiri. Dia juga tak ingin, kamu tahu kan setiap kamu bertemu dengannya setelah hari itu? sia begitu gugup padamu, dia takut hatimu terluka lagi bro. Santai bro, dia tak akan menangis lagi karena menahan sakit waktu bersamamu, percayalah. Percaya aku, dia tak akan menangis saat melihat memar biru dibetis, paha lengan kamu. Percaya ya,,, aku bilang dia juga tak mau melihat kamu dibuat memar gara-gara dia, mungkin dalam pikirannya kamu sudah tak merasakan memar-memar itu, tak merasakan sakit ketika orang yang disayang belahan hati di lecehkan didepanmu oleh keluargamu. Percayalah,, aku yang ceria jangan pernah menangis lagi, jangan bilang juga teman yang biasanya berbagi denganmu tak sayang lagi, dia harus mencari sesuatu yang harus dia cari untuk masa depannya, dia sebenarnya juga ingin tinggal didekat rumahmu mendengarkan semua keluh kesahmu dan berbagi untukmu, tapi itu akan membuatnya tak bisa mencapai apa yang dia impikan, dia juga berfikir bila kamu tak jauh darinya akan membuatmu tak tambah jadi dewasa tambah membuatmu menjadi seseorang yang lemah, namun bila dia jauh, dia akan melihatmu menjadi sosok yang kuat, tegar tahan uji saat dia kembali datang ke dekat rumahmu suatu saat. Dia akan mengatakan aku bangga dengan kamu, kamu bukanlah gadis kecil cengeng bentar-bentar nangis, sekarang kamu menjadi wanita yang sanggub hidup tanpa seseorang yang selalu ada, tak lagi bergantung pada bantuan teman, percaya itu yang dirasakan sahabat kecilmu itu, dia begitu sayang untukmu ,, begitu besar sayang dia sehingga dia harus bisa tak menangis saat meninggalkan kamu sendiri dirumah. Percaya lah.. suatu saat dia akan berkunjung ketempatmu dan berkata, “I pround of you!” apa kamu mau menyakiti harapan teman kecilmu, sahabat sepanjang masa gara-gara kamu menyesal atas perbuatan yang dewasa yang dulu pernah kamu lakukan. Sebuah keberanian yang mungkin susah untuk diungkapkan, tindakan yang membuat orang lain sakit karena berada di dekatmu?”
Semua itu berawal sekitar 5 tahu lalu, tentang seseorang yang membuatmu menjadi kecewa yang sangat. Sejak saat kecil memang ditakdirkan tidak mempunyai kakak laki-laki, menganggap dua orang yang lebih tua tinggal di rumah kakak sepupunya yang mungkin usianya berjarak, 8 tahun lebih tua dan 3 tahun lebih tua. Membuatku nyaman berada diantara mereka. Mungkin bila mas Agung juga merasakan hal yang sama seperti aku, yang tak mempunyai adik perempuan berbeda dengan mas Zuhri yang harus terpisah dengan keluarga kecilnya karena kesalahan ayah yang tak tahan uji. Setiap hari selalu dibikin kesal, tertawa, disuruh dan dimarahin tak lupa memberikan sebuah makanan ringan untukku atau sekedar berbagi nasi yang sedang bertahta di piringnya kepadaku. Hal itu sangat membuatku merasa mempunyai kakak lagi-laki. Setelah tanggal 6 Juli 2005 semuanya berubah berlahan tapi pasti, mas Zuhri yang aku anggap sebagai kakak laki-lakiku, menghianati perasaan ini, bukan ditinggalkannya atau diabaikannya, hanya dia melakukan sesuatu yang tak harusnya dia lakukan kepada adiknya. Dia begitu paham tentang aku, bagaimana aku, namun saat itu entah ada apa ditubuhnya membuat dia menjadi seseorang yang lain. Waktu itu sepulang sekolah aku mencari seluruh orang di keluarga kecilku, namun tak ku temui seorangpun, kemudian aku cari kedepan, kerumah nenekku dari ibu, namun tak jua kutemui seseorang, hingga ada tetanggaku yang bilang, “Kerumah dek Nopi paling, Zha. Adekmu kan nikah.” Aku jadi ingat kalo memang hari ini tanggalnya, kemarin mungkin aku terlalu sibuk untuk mengerjakan tugas sekolah jadi tak tahu kalau ibu dan sodaraku yang lain pergi untuk membantu dirumah dek nopi. Tanpa berikir panjang aku ambil sepeda adik sepupuku kemudian aku datang ke rumah dek nopi memang tak jauh dari rumahku hanya berbeda RT saja. Setelah sampai sana, ku temui semua keluargaku memakai pakaian yang sepantasnya dipakai sedangkan aku, memakai seragam sekolah. Tak pa lah, Cuma menunggu di terima tamu malu mau masuk gag pakai pakaian yang seharusnya. Setelah acara usai, mamaku menanyai aku, aku mau pulang pakai apa karena saat itu aku tak mungkin berbonceng tiga dengan mamaku dan adek ku. Aku ingat aku membawa sepeda Riko, aku memutuskan untuk pulang sendiri dengan memakai sepeda Riko sebagai tanggung jawabku dan jalan tengah yang baik. Namun, saat itu terdengar oleh mas Zuhri, dia menawarkan utuk menemaniku pulang, saat itu aku naek sepeda dan dia jalan kaki. Waktu aku tawarkan untuk naik ke sepeda biar berbonceng, dia mengatakan, “kasihan sepedanya!” memang sepeda yang aku naiki sepeda untu anak SD banyak orang bilang sepeda tanggung gag gedhe gag kecil. Setelah sampai rumah, aku pulang kerumah untuk berganti pakaian, namun hanya kemejanya yang ku ganti dengan kaos. Kemudian aku mencari mas Zuhri kedepan. Aku melihatnya sedang tiduran di ruang tamu, dengan membawa guling, saat itu ada orang yang juga tidur disebelahnya, namun, aku lupa siapa yang tidur di sebelah mas Zuhri. Awalnya aku merasa kurang beruntung karena tak bisa berbincang dengan mas Zuhri karena dia sudah tertidur, namun lama-lama mataku ini mengantuk ketika aku membaca koran yang terbit terakhir. Akhirnya, aku turut dengannya, tidur disebelahnya, aku membangunkan dia sebentar dan bilang untuk berbagi gulingnya denganku. Awalnya aku tak merasa ada yang aneh dengan kakakku ini, namun setelah dia mainkan bibirnya ke lengan bawahku, membuat aku geli karena menganggap dia bermimpi ciuman dengan ceweknya, jadi ketawa saat ingat masa itu. setelah beberapa saat aku merasa kasihan dengan dia karena mainin orang yang legi tudur, aku sedikit geser berharap dia berhenti dan sadar. Namun, setelah beberapa saat pula tiba-tiba dia mainkan kembali punggung ibu jariku dengan bibirnya. Ini membuatku curiga dan was-was. Semuanya terjawab ketika beberapa belas menit, dia berbalik menghadap ke wajahku yang semula dia tengkurap dan menghadapkan rambut dan leher belakanya ke depan wajahku, seketika hatiku ‘deg’. Pikirku berkembang kenapa ya. Semua terjawab kembali setelah beberapa saat, kedua bibirnya menyentuh ujung bibirku yang bawah. Seketika air keringat dingin meluncur dari belakang leher hingga arah perut. Dia tarik bibir bawahku kedalam mulutnya, saat itu hatiku hancur, aku telah memilih seorang sosok kakak laki-laki yang salah. Betapa tidak, aku menyayanginya seperti aku menyayangi kakak perempuanku. Namun hal yang berbeda yang dia lakukan kepadaku. Aku benar-benar kecewa sangat terhadapnya. Dia begitu indah dihadapanku sebagai seseorang kakak yang aku harapkan. Setelah beberapa saat dia menyudahinya. Hatiku berdetak lebih kencang dari waktu ke waktu. Beberapa saat setelah itu, aku dipanggil oleh seseorang dari luar rumah, untuk menanyakan buku arisan yang dipegang mamaku, saat itu mamaku sedang pergi namun aku lupa kemana dia pergi. Setelah kira-kira sejaman aku pergi karena menggantikan tugas mamaku memegang buku itu, aku kembali untuk menanyakan apa maksudnya tadi. Namun, saat aku kesana dia sedang mencuci sesuatu di luar rumah. Aku hanya mengintipnya dari jendela tak berani menampakkan muka langsung sebelum memikirkan kata apa yang tepat untu memulainya. Namun, saat aku memikirkan kata yang tepan untuk menjadi sebuah awalan yang tak membuatnya salah terima, tubuhku tiba-tiba dipeluk oleh mas Zuhri. Kaget setengah mati dan jantungku berdetak dua tiga kali lebih cepat dari yang tadi. Mungkin dia merasakan betapa kencang datak jantungku saat itu. setelah itu dia berkata, “Hayo napa ngintip aku?”
Aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu, menandakan alasan yang ambigu, mungkin dia juga salah mengartikannya. Setelah itu, dia menanyakan, “kamu sayang aku gag?” pertanyaan yang seharusnya tak dia katakan keluar, apa dia selama ini tak merasa bahwa aku menyayanginya seperti sodara kandung. Dengan malu, dan lirih dan menganggukkan kepala aku bilang, “Iya!” setelah itu tiba-tiba dia remas dadaku, dan berkata, “eh, ntar aja deng, masih banyak waktu!” andai dia tau saat itu aku benar-benar kecewa atas perbuatnya dan aku datang untuk mencari alasannya. Namun, dia mengulanginya. Itu membuatku benar-benar kecewa.
Setelah itu, aku merasa canggung dan mengintai dia berharap aku berani mengatakan rasa kecewaku ini. Namun, hasilnya selalu membuat dia salah arti, dan melakukan hal yang benar-benar buat aku kecewa lagi, dia ciumi aku dia remas dadaku. Bukan ini yang aku inginkan dari seorang mas Zuhri. Namun sebuah jawaban atas semua yang dia lakukan padaku. Ini mungkin tak penting untuknya. Aku masih mengganggap dia lagi 75% otaknya jadi tak mengingat siapa aku, adeknya atau ceweknya. Aku masih menerima ajakan Aris untuk menjadi cewek aris. Saat itu, aku hanya pergi puter-puter dengan naek sepeda. Kadang berbonceng kadang dengan dua sepeda setelah sholat Tarwih. Namun, setelah sampai depan gang rumahku, tiba-tiba mas Zuhri sudah ada didepan jembatan dengan wajah yang marah, pokoknya tak enak dilihat. Aku tak tahu apa yang harus lakukan. Setelah itu, siang harinya, dia tak seharusnya melakukan perbuatan yang benar-benar membuatku kecewa dan sakit. Aku bebar-benar sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dia telah melakukannya. Aku hanya diam saking kecewanya dengan dia. Sekitar setelah idhul fitri aku merasa dia mungkin sudah mulai sayang bukan dalam artian kakak-adik saja. Namun, aku mengabaikannya, aku masih merasa dia kakak yang kurang ajar. Ehm.. aku, juga masih terima ajakan dua cowok untuk menjadi pacarnya. Meski mas Zuhri tau namun dia hanya pasang wajah dingin ketika bertemu denganku. Saat itu mulai ketahuan bila ada hubungan yang lebih dari seorang kakak kepada adiknya. Aku yang ditanya mendetail hanya bilang gag ada apa-apa, memang saat itu aku masih menganggap dia kakak laki-lakiku. Namun, setelah dia cerita dan buntuti aku ketika jalan dengan Yuki, dia marah besar. Awalnya dia hanya tanya kemaren jalan sama siapa? Aku hanya bilang ma Yuki mau liat latihan. Dia bali tanya gag ke alun-alun lapangan bola. Aku jadi agag gimana karena dia mengetahui aku dimana setelah sebelumnya puter-puter naek motor sama yuki. Lama kelamaan nada bicaranya meninggi satu sama lain. Hingga akhirnya dia memberantakan isi kamarnya. Mulai saat itu aku sadar dia menganggapku lebih dari seorang kakak adik. Mulai saat itu aku mulai membuka hatiku untuk dia. Meski awalnya sulit, namun banyak sekali hal gila dan aneh, konyol yang sering aku lakukan bersamanya. Namun, masih tetap jiwa mudaku mengantarkan aku untuk berselingkuh kembali dengan evan dan rudi. Akhirnya, aku sudahi perjalanan cinta ini, ketika aku tak sanggup untuk melihatnya menangis karena luka memar ditubuhku dan omelan dan hinaan yang ditujukan pada dia didepan mataku. Aku merasa tak sanggup lagi menentang, keluarga besarku demi dia. Aku tak sanggup lagi untuk berada ditengah-tengah dia dan masa depanku. Orang tuaku berkata, tak akan memberiku lanjutin kuliah kalau aku masih bersamanya. Inginku aku dan dia break 1,5 tahun abis itu apa rencana kita. Namun, hati dia terlalu sakit untuk menerima kepedihan ini. Hati dia tak kuat lagi untuk melihatku disakiti oleh orang tuaku. Dia akhirnya juga melepasku dan mencari cinta yang baru saat itu minggu pertama bulan februari 2008. Setelah bulan mei, aku mencari dia, namun aku dengar dari Mayang bila dia menjadi calon suami dari kakak sepupu Wulan. Saat itu hatiku hancur, aku datangi dia setiap waktu tapi dia tak mengerti sama sekali maksudku, atau mungkin dia membiarkan aku merasakan sakit ini. Hingga akhirnya dia menikah tanggal 12 agustus 2008 hari selasa. Aku perih saat melihat dia dirumah istrinya dengan sisa-sisa riasan pengantin. Dia masih ingat betul snak yang slalu ada bila kita habiskan waktu bersama selama 2,5 tahun yaitu, wafer rasa Vanila. Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat dia beri senyum untukku. Hingga saat ini sudah 2,5 tahun lebih dua hari aku masih tetap seperti yang dulu, mencintai dia dengan sepenuh hati. Aku tak tahu kenapa setelah menulis ini di awal kisah aku menangis dan di akhir ini aku juga menangis. Aku tak tahu apakah dia tercipta untukku atau aku tercipta untuknya seperti yang dia katakan kepadaku atau tidak. Namun yang jelas saat ini entah sampai kapan hatiku masih untuknya. Waktuku masih untuknya dan doaku masih untuknya. Mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurusi anggota baru dalam rumah tangganya. Mungkin sedang bingung mengganti popok atau membuatkan susu buah cinta mereka. Aku tak tahu. Tapi tadi mas Agung mengatakan. Semua ini sia-sia jika kau teruskan. Aku tak tahu benar atau tidak. Tapi yang jelas rasa yang ada dihatiku masih sama seperti yang dulu. Masih disini.. meski aku sudah hampir gila untuk berusaha melupakkannya. Namun bila harus jujur aku setiap waktu mengingatnya, merindukannya. Aku tak mengharap dia kembali menjadi cintaku, aku hanya ingin dia menjadi kakak laki-lakiku.. aku kangen sama mas Zuhri sebelum tanggal 6 Juli 2005. Belum lagi mengingat dia ketika aku terbangun dari tidurku ditengah malam. Selalu berakhir menangis.. kenapa dia selalu membawa kecewa dalam hidupku... semoga tak menjadikan aku kecewa di akhir hidupku kelak.
Semua itu berawal sekitar 5 tahu lalu, tentang seseorang yang membuatmu menjadi kecewa yang sangat. Sejak saat kecil memang ditakdirkan tidak mempunyai kakak laki-laki, menganggap dua orang yang lebih tua tinggal di rumah kakak sepupunya yang mungkin usianya berjarak, 8 tahun lebih tua dan 3 tahun lebih tua. Membuatku nyaman berada diantara mereka. Mungkin bila mas Agung juga merasakan hal yang sama seperti aku, yang tak mempunyai adik perempuan berbeda dengan mas Zuhri yang harus terpisah dengan keluarga kecilnya karena kesalahan ayah yang tak tahan uji. Setiap hari selalu dibikin kesal, tertawa, disuruh dan dimarahin tak lupa memberikan sebuah makanan ringan untukku atau sekedar berbagi nasi yang sedang bertahta di piringnya kepadaku. Hal itu sangat membuatku merasa mempunyai kakak lagi-laki. Setelah tanggal 6 Juli 2005 semuanya berubah berlahan tapi pasti, mas Zuhri yang aku anggap sebagai kakak laki-lakiku, menghianati perasaan ini, bukan ditinggalkannya atau diabaikannya, hanya dia melakukan sesuatu yang tak harusnya dia lakukan kepada adiknya. Dia begitu paham tentang aku, bagaimana aku, namun saat itu entah ada apa ditubuhnya membuat dia menjadi seseorang yang lain. Waktu itu sepulang sekolah aku mencari seluruh orang di keluarga kecilku, namun tak ku temui seorangpun, kemudian aku cari kedepan, kerumah nenekku dari ibu, namun tak jua kutemui seseorang, hingga ada tetanggaku yang bilang, “Kerumah dek Nopi paling, Zha. Adekmu kan nikah.” Aku jadi ingat kalo memang hari ini tanggalnya, kemarin mungkin aku terlalu sibuk untuk mengerjakan tugas sekolah jadi tak tahu kalau ibu dan sodaraku yang lain pergi untuk membantu dirumah dek nopi. Tanpa berikir panjang aku ambil sepeda adik sepupuku kemudian aku datang ke rumah dek nopi memang tak jauh dari rumahku hanya berbeda RT saja. Setelah sampai sana, ku temui semua keluargaku memakai pakaian yang sepantasnya dipakai sedangkan aku, memakai seragam sekolah. Tak pa lah, Cuma menunggu di terima tamu malu mau masuk gag pakai pakaian yang seharusnya. Setelah acara usai, mamaku menanyai aku, aku mau pulang pakai apa karena saat itu aku tak mungkin berbonceng tiga dengan mamaku dan adek ku. Aku ingat aku membawa sepeda Riko, aku memutuskan untuk pulang sendiri dengan memakai sepeda Riko sebagai tanggung jawabku dan jalan tengah yang baik. Namun, saat itu terdengar oleh mas Zuhri, dia menawarkan utuk menemaniku pulang, saat itu aku naek sepeda dan dia jalan kaki. Waktu aku tawarkan untuk naik ke sepeda biar berbonceng, dia mengatakan, “kasihan sepedanya!” memang sepeda yang aku naiki sepeda untu anak SD banyak orang bilang sepeda tanggung gag gedhe gag kecil. Setelah sampai rumah, aku pulang kerumah untuk berganti pakaian, namun hanya kemejanya yang ku ganti dengan kaos. Kemudian aku mencari mas Zuhri kedepan. Aku melihatnya sedang tiduran di ruang tamu, dengan membawa guling, saat itu ada orang yang juga tidur disebelahnya, namun, aku lupa siapa yang tidur di sebelah mas Zuhri. Awalnya aku merasa kurang beruntung karena tak bisa berbincang dengan mas Zuhri karena dia sudah tertidur, namun lama-lama mataku ini mengantuk ketika aku membaca koran yang terbit terakhir. Akhirnya, aku turut dengannya, tidur disebelahnya, aku membangunkan dia sebentar dan bilang untuk berbagi gulingnya denganku. Awalnya aku tak merasa ada yang aneh dengan kakakku ini, namun setelah dia mainkan bibirnya ke lengan bawahku, membuat aku geli karena menganggap dia bermimpi ciuman dengan ceweknya, jadi ketawa saat ingat masa itu. setelah beberapa saat aku merasa kasihan dengan dia karena mainin orang yang legi tudur, aku sedikit geser berharap dia berhenti dan sadar. Namun, setelah beberapa saat pula tiba-tiba dia mainkan kembali punggung ibu jariku dengan bibirnya. Ini membuatku curiga dan was-was. Semuanya terjawab ketika beberapa belas menit, dia berbalik menghadap ke wajahku yang semula dia tengkurap dan menghadapkan rambut dan leher belakanya ke depan wajahku, seketika hatiku ‘deg’. Pikirku berkembang kenapa ya. Semua terjawab kembali setelah beberapa saat, kedua bibirnya menyentuh ujung bibirku yang bawah. Seketika air keringat dingin meluncur dari belakang leher hingga arah perut. Dia tarik bibir bawahku kedalam mulutnya, saat itu hatiku hancur, aku telah memilih seorang sosok kakak laki-laki yang salah. Betapa tidak, aku menyayanginya seperti aku menyayangi kakak perempuanku. Namun hal yang berbeda yang dia lakukan kepadaku. Aku benar-benar kecewa sangat terhadapnya. Dia begitu indah dihadapanku sebagai seseorang kakak yang aku harapkan. Setelah beberapa saat dia menyudahinya. Hatiku berdetak lebih kencang dari waktu ke waktu. Beberapa saat setelah itu, aku dipanggil oleh seseorang dari luar rumah, untuk menanyakan buku arisan yang dipegang mamaku, saat itu mamaku sedang pergi namun aku lupa kemana dia pergi. Setelah kira-kira sejaman aku pergi karena menggantikan tugas mamaku memegang buku itu, aku kembali untuk menanyakan apa maksudnya tadi. Namun, saat aku kesana dia sedang mencuci sesuatu di luar rumah. Aku hanya mengintipnya dari jendela tak berani menampakkan muka langsung sebelum memikirkan kata apa yang tepat untu memulainya. Namun, saat aku memikirkan kata yang tepan untuk menjadi sebuah awalan yang tak membuatnya salah terima, tubuhku tiba-tiba dipeluk oleh mas Zuhri. Kaget setengah mati dan jantungku berdetak dua tiga kali lebih cepat dari yang tadi. Mungkin dia merasakan betapa kencang datak jantungku saat itu. setelah itu dia berkata, “Hayo napa ngintip aku?”
Aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu, menandakan alasan yang ambigu, mungkin dia juga salah mengartikannya. Setelah itu, dia menanyakan, “kamu sayang aku gag?” pertanyaan yang seharusnya tak dia katakan keluar, apa dia selama ini tak merasa bahwa aku menyayanginya seperti sodara kandung. Dengan malu, dan lirih dan menganggukkan kepala aku bilang, “Iya!” setelah itu tiba-tiba dia remas dadaku, dan berkata, “eh, ntar aja deng, masih banyak waktu!” andai dia tau saat itu aku benar-benar kecewa atas perbuatnya dan aku datang untuk mencari alasannya. Namun, dia mengulanginya. Itu membuatku benar-benar kecewa.
Setelah itu, aku merasa canggung dan mengintai dia berharap aku berani mengatakan rasa kecewaku ini. Namun, hasilnya selalu membuat dia salah arti, dan melakukan hal yang benar-benar buat aku kecewa lagi, dia ciumi aku dia remas dadaku. Bukan ini yang aku inginkan dari seorang mas Zuhri. Namun sebuah jawaban atas semua yang dia lakukan padaku. Ini mungkin tak penting untuknya. Aku masih mengganggap dia lagi 75% otaknya jadi tak mengingat siapa aku, adeknya atau ceweknya. Aku masih menerima ajakan Aris untuk menjadi cewek aris. Saat itu, aku hanya pergi puter-puter dengan naek sepeda. Kadang berbonceng kadang dengan dua sepeda setelah sholat Tarwih. Namun, setelah sampai depan gang rumahku, tiba-tiba mas Zuhri sudah ada didepan jembatan dengan wajah yang marah, pokoknya tak enak dilihat. Aku tak tahu apa yang harus lakukan. Setelah itu, siang harinya, dia tak seharusnya melakukan perbuatan yang benar-benar membuatku kecewa dan sakit. Aku bebar-benar sudah tak bisa berbuat apa-apa. Dia telah melakukannya. Aku hanya diam saking kecewanya dengan dia. Sekitar setelah idhul fitri aku merasa dia mungkin sudah mulai sayang bukan dalam artian kakak-adik saja. Namun, aku mengabaikannya, aku masih merasa dia kakak yang kurang ajar. Ehm.. aku, juga masih terima ajakan dua cowok untuk menjadi pacarnya. Meski mas Zuhri tau namun dia hanya pasang wajah dingin ketika bertemu denganku. Saat itu mulai ketahuan bila ada hubungan yang lebih dari seorang kakak kepada adiknya. Aku yang ditanya mendetail hanya bilang gag ada apa-apa, memang saat itu aku masih menganggap dia kakak laki-lakiku. Namun, setelah dia cerita dan buntuti aku ketika jalan dengan Yuki, dia marah besar. Awalnya dia hanya tanya kemaren jalan sama siapa? Aku hanya bilang ma Yuki mau liat latihan. Dia bali tanya gag ke alun-alun lapangan bola. Aku jadi agag gimana karena dia mengetahui aku dimana setelah sebelumnya puter-puter naek motor sama yuki. Lama kelamaan nada bicaranya meninggi satu sama lain. Hingga akhirnya dia memberantakan isi kamarnya. Mulai saat itu aku sadar dia menganggapku lebih dari seorang kakak adik. Mulai saat itu aku mulai membuka hatiku untuk dia. Meski awalnya sulit, namun banyak sekali hal gila dan aneh, konyol yang sering aku lakukan bersamanya. Namun, masih tetap jiwa mudaku mengantarkan aku untuk berselingkuh kembali dengan evan dan rudi. Akhirnya, aku sudahi perjalanan cinta ini, ketika aku tak sanggup untuk melihatnya menangis karena luka memar ditubuhku dan omelan dan hinaan yang ditujukan pada dia didepan mataku. Aku merasa tak sanggup lagi menentang, keluarga besarku demi dia. Aku tak sanggup lagi untuk berada ditengah-tengah dia dan masa depanku. Orang tuaku berkata, tak akan memberiku lanjutin kuliah kalau aku masih bersamanya. Inginku aku dan dia break 1,5 tahun abis itu apa rencana kita. Namun, hati dia terlalu sakit untuk menerima kepedihan ini. Hati dia tak kuat lagi untuk melihatku disakiti oleh orang tuaku. Dia akhirnya juga melepasku dan mencari cinta yang baru saat itu minggu pertama bulan februari 2008. Setelah bulan mei, aku mencari dia, namun aku dengar dari Mayang bila dia menjadi calon suami dari kakak sepupu Wulan. Saat itu hatiku hancur, aku datangi dia setiap waktu tapi dia tak mengerti sama sekali maksudku, atau mungkin dia membiarkan aku merasakan sakit ini. Hingga akhirnya dia menikah tanggal 12 agustus 2008 hari selasa. Aku perih saat melihat dia dirumah istrinya dengan sisa-sisa riasan pengantin. Dia masih ingat betul snak yang slalu ada bila kita habiskan waktu bersama selama 2,5 tahun yaitu, wafer rasa Vanila. Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat dia beri senyum untukku. Hingga saat ini sudah 2,5 tahun lebih dua hari aku masih tetap seperti yang dulu, mencintai dia dengan sepenuh hati. Aku tak tahu kenapa setelah menulis ini di awal kisah aku menangis dan di akhir ini aku juga menangis. Aku tak tahu apakah dia tercipta untukku atau aku tercipta untuknya seperti yang dia katakan kepadaku atau tidak. Namun yang jelas saat ini entah sampai kapan hatiku masih untuknya. Waktuku masih untuknya dan doaku masih untuknya. Mungkin saat ini dia sedang sibuk mengurusi anggota baru dalam rumah tangganya. Mungkin sedang bingung mengganti popok atau membuatkan susu buah cinta mereka. Aku tak tahu. Tapi tadi mas Agung mengatakan. Semua ini sia-sia jika kau teruskan. Aku tak tahu benar atau tidak. Tapi yang jelas rasa yang ada dihatiku masih sama seperti yang dulu. Masih disini.. meski aku sudah hampir gila untuk berusaha melupakkannya. Namun bila harus jujur aku setiap waktu mengingatnya, merindukannya. Aku tak mengharap dia kembali menjadi cintaku, aku hanya ingin dia menjadi kakak laki-lakiku.. aku kangen sama mas Zuhri sebelum tanggal 6 Juli 2005. Belum lagi mengingat dia ketika aku terbangun dari tidurku ditengah malam. Selalu berakhir menangis.. kenapa dia selalu membawa kecewa dalam hidupku... semoga tak menjadikan aku kecewa di akhir hidupku kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar